Banjir di Subulussalam Memasuki Hari ke-10, Aktivitas Santri Terganggu Serius
Banjir yang melanda wilayah Pondok Pesantren Subulussalam, Kresek, Kabupaten Tangerang, hingga kini telah memasuki hari ke-10 tanpa tanda-tanda surut yang signifikan. Peristiwa ini bukanlah kejadian pertama. Banjir di kawasan Subulussalam telah menjadi fenomena tahunan, khususnya saat musim hujan tiba, dan terus berulang tanpa solusi jangka panjang yang nyata.
Genangan air yang merendam area pesantren tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengancam stabilitas kehidupan dan proses pendidikan para santri. Pada siang hari, kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas terganggu karena air masuk ke lingkungan asrama dan area sekitar kelas. Sementara pada malam hari, santri kesulitan beristirahat dengan layak akibat kondisi lingkungan yang tidak aman dan tidak nyaman.
Lebih memprihatinkan lagi, sumber air bersih pesantren turut terkontaminasi air kotor, sehingga meningkatkan risiko kesehatan bagi para santri. Dalam kondisi seperti ini, para santri tetap berusaha bertahan, belajar, dan menjalankan aktivitas ibadah dengan penuh kesabaran, meski berada dalam keterbatasan yang sangat berat.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan moral generasi muda sejatinya membutuhkan lingkungan yang kondusif, aman, dan sehat. Namun, banjir yang terus berulang ini telah menjadi hambatan serius bagi terwujudnya suasana tersebut.
Melalui pemberitaan ini, kami sangat berharap adanya perhatian dan kepedulian nyata dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang maupun Pemerintah Provinsi Banten, agar bersama-sama mencarikan solusi permanen dan berkelanjutan. Penanganan yang tidak sekadar bersifat darurat, tetapi menyentuh akar persoalan, sangat dibutuhkan agar banjir tidak terus terulang dari tahun ke tahun.
Kami percaya, dengan dukungan dan langkah konkret dari pihak pemerintah, para santri Pondok Pesantren Subulussalam dapat kembali menjalani aktivitas belajar dan mengajar dengan tenang, aman, dan bermartabat, sebagaimana hak setiap anak bangsa dalam menuntut ilmu.
Semoga suara kecil dari pesantren ini dapat mengetuk hati para pemangku kebijakan, demi masa depan pendidikan dan kemanusiaan yang lebih baik.