Tentang Kami

Tentang Pondok Pesantren Subulussalam

Lembaga pendidikan Islam ini diberi nama “Subulussalam” yang secara etimologis berarti “jalan-jalan menuju kedamaian/kesejahteraan/keselamatan”. Idealisnya tentu sejalan dengan namanya, yakni berkiprah dalam membina generasi yang berdedikasi dan memiliki kualitas spiritual dan intelektual, sebagai modal pengembangan kreatifitas hidup menuju kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan. Subul adalah bentuk plural (jama’) dari sabiil yang berarti jalan. Salam berarti damai/selamat. Cita-cita perdamaian adalah cita-cita suci. Keamanan, keselamatan dan kesejahteraan adalah cita-cita segenap manusia.

Pesantren Subulussalam Kresek

Tanggal 06 Januari 1990 M merupakan awal mulai dirintisnya Pondok Pesantren Subulussalam dengan perubahan beberapa bangunan asrama. Tanggal 10 juli 1990 adalah awal mulai menerima santri baru dengan jumlah pendaftaran untuk pertama kalinya sebanyak 98 santri. Baru pada tanggal 24 Agustus 1990 M yang bertepatan dengan tanggal 3 Safar 1411 H pembukaan tahun ajaran baru Pondok Pesantren Subulussalam mulai diresmikan dengan gegap gempita penuh rasa Syukur.

Tanggal dan hari di atas tentunya merupakan hari-hari yang sangat bersejarah bagi Kyai muda H. Ahmad Maimun Alie bin K.H. Alia Rafiudin. KH. Ahmad Maimun bersama Drs. H. Anang Azhari Alie yang juga adik kandungnya serta beberapa yang lain memulai babak perjuangan baru dengan membangun sebuah pesantren di tengah pelosok perkampungan, berawa penuh lintah, ular berbisa dan rawan tantangan. Area seluas kurang lebih 1,5 Ha, di kampung Kandanggede, Kresek, Kabupaten Tangerang Provinsi Banten, di mana pesantren mulai dibangun, adalah wakaf umat Islam masyarakat Islam sekitar dengan fisik bangunan untuk pertama kalinya dari seorang dermawan muslim yang memahami perjuangan menegakan kalimat Allah yakni Bpk. Dr. H. Masagus Nur 

 

Muhammad Hasjim ning sekeluarga disamping tentunya donator lainnya. 

Sebelum pada tahun 1981 di area ini memang pernah berdiri Yayasan Subulussalam dengan sebuah bangunan tua nan rapuh dan beberapa pondok yang belum selesai, tapi Yayasan pesantren yang dirintis oleh para tokoh masyarakat atas ide dan rakarsa Almarhum K.H. Mansyur yang juga seorang tokoh karismatik tersebut keberadaannya sangat memprihatinkan “Wujuduhu Ka’adamihi” adanya seperti tidak adanya.

Pondok Pesantren Subulussalam sampai kini tetap konsisten mengembangkan pola tradisi keilmuan melalui perpaduan ala pesantren salaf dan modern dengan visi integrated system. Yakni sebuah perpaduan harmonis-intensif antara pendidikan formal dan non formal, antara “Pendidikan umum dan Agama”. 
Pendidikan dan pengajaran formal dan non formal yang dikembangkan pesantren telah di formulasikan dalam posisi sejajar dan saling melengkapi. Sehingga parameter keberhasilan santri tidak hanya dilihat dari hasil yang dicapainya pada pendidikan formal saja, melainkan dari pendidikan non formalnya. Keduanya memiliki standar kewajiban yang masing-masing diarahkan secara optimal guna menopang keberhasilan misi pondok pesantren Subulussalam.

 

Visi dan Misi

Visi Pesantren

Menjadi Lembaga Pendidikan Pencetak Muslim Berjiwa Santri Berpaham Tawassuh, Menjadi Tempat Ibadah dan Menjadi Tempat Berkembangnya Keilmuan dan Peradaban Islam

Misi Pesantren

1. Membentuk pribadi berdisiplin, taat beribadah, mandiri dan kreatif
2. Mendidik dan mengembangkan potensi generasi muslim agar berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas yang senantiasa berkhidmah pada agama dan bangsa.
3. Mengajarkan keilmuan agama dan umum seimbang guna mewujudkan kaum intelek yang bertanggung jawab

aaa