Pemikiran Sheikh Nawawi al Bantani Tujuan dan Strategi Pembelajaran Islam dalam Kitab Salalim al-Fudhala’

 

Tujuan Pembelajaran Islam Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Maragustam berpendapat bahwa ketika membicarakan tujuan pendidikan, para ahli pendidikan muslim selalu mengacu pada tujuan Tuhan menciptakan manusia atau fungsi manusia diciptakan yaitu sebagai khalifah dan untuk ubudiyah. Syekh Nawawi dalam kitabnya Maraqi al-Ubudiyyah mengatakan, “Ketika niat dan tujuanmu untuk mencari ilmu hanya karena Allah semata, maka kamu akan mendapat hidayah dari-Nya. Dengan niat mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri, dari orang lain, dan dengan ilmu kita bisa hidup dan beriman kepada kebenaran Islam, kehidupan akhirat dan berkah/ridha Allah.” Demikian pula menuntut ilmu harus dilandasi niat: mensyukuri kenikmatan pikiran dan kesehatan tubuh.” (Syekh Nawawi Al-Bantani, 2019). Jelas dari penjelasan di atas bahwa tujuan pendidikan dalam gagasan Syekh Nawawi adalah untuk mendapatkan ridho Allah, menghilangkan kebodohan, mengembangkan agama Islam dan mensyukuri pemberian Allah berupa nikmat "akal dan kesehatan". Dari beberapa tujuan yang tercantum tersebut, bisa disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Syekh Nawawi dalam pemikirannya mencerminkan tujuan penciptaan manusia yaitu sebagai khalifah dan untuk Ubudiyah.”

Tujuan pendidikan dalam Islam menurut syekh nawawi merupakan refleksi dari fungsi manusia sebagai ubudiyah dan khalifah. Sebagaimana tercemin dari pendapatnya bahwa tujuan pendidikan dalam Islam (memperoleh ilmu) ada empat yakni : (Maragustam, 2006 : 334).

  1. Agar memperoleh rida (rela) dari Allah (mardatillah) dan memperoleh kehidupan akhirat.
  2. Untuk menyingkirkan kebodohan dari dirinya (peserta didik) dan setelah mendapatkan ilmu ia juga ikut mengajari orang lain agar kebodohan itu lenyap.
  3.  Menghidupkan agama dan mengabdikan Islam dengan sinaran ilmu.
  4.  Untuk mensyukuri nikmat Allah berupa pemberrian akal dan badan sehat.

Dari empat tujuan pendidikan dalam Islam yang digagas oleh syekh Nawawi al-Bantani, yakni memperoleh ilmu untuk mencari rida (rela) Tuhan dan mencari persiapan kehidupan akhirat adalah merupakan realisasi dari fungsi manusia untuk ubudiyah, sedangkan tujuan lainya berkaitan dengan fungsi manusia sebagai khalifah atau co creator. Maksud manusia ubudiyah ialah semua aktifitas manusia harus dibingkai dengan nilai mardatilah dan kebahagian akhirat. Sedangkan fungsi manusia sebagai co creator (khalifah), adalah bagaimana mengatur kehidupan dan mengolah alam semesta ini kemakmuran bagi manusia sekarang dan generasi mendatang, sekaligus ubudiyah. Dari tujuan pendidikan yang dipaparkan tersebut mencakup lima aspek yakni, aspek pendidikan akhlak, akal, sosial kemasnyarakatan, jasmani dan aspek profesioanal. Implikasi dari tujuan ini menempatkan syehk Nawawi pada posisi memandang ilmu sebagai sesuatu yang dicari untuk tujuan keilmuan itu sendiri, tetapi juga tujuan untuk diluarnya yakni reformasi sosial (ilmu untuk kemajuan dan peradaban). Mu‟allim dalam pelajaranya memegang prinsip metodik yakni memperlakukan tolib sesuai dengan keadanya, seperti seorang dokter memberikan terapi kepada pasienya, sesuai dengan penyakitnya.

Selanjutnya Menurut Syekh Nawawi, tujuan dari menuntut ilmu dan memberikan pengajaran adalah untuk mencapai martabat, hidup dengan perspektif akhirat, memberantas kebodohan, memajukan Islam, mendukung prinsip-prinsip ilmiah dalam Islam, serta menunjukkan rasa syukur atas karunia pikiran, jiwa, dan tubuh yang sehat. Rasa syukur ini melibatkan aspek emosional, intelektual, dan spiritual, sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan yang Maha Dermawan. 

Pendidikan Islam mencerminkan fungsi manusia sebagai khalifah (pemimpin) dan ubudiyah (hamba). Tujuan pendidikan harus mengarah pada integritas diri terhadap Tuhan dan sesama manusia, yang pada akhirnya membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Syekh Nawawi menyatakan ada empat arah tujuan pendidikan Islam: (a) meraih kebahagiaan dari Allah dan mendapatkan kenikmatan di akhirat, (b) menghilangkan kekurangan setelah memperoleh ilmu dengan mengajarkannya kepada orang lain, (c) menerangi agama dengan cahaya ilmu dan memperkukuh Islam, serta (d) bersyukur atas nikmat Allah berupa akal dan tubuh yang sehat. Namun, tujuan ini tidak boleh disalahgunakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain atau hanya mencari keuntungan materi ( Zhafiri Hasman Muhamman dkk, 2023).

Aspek syukur dalam pandangan Syekh Nawawi melibatkan pemahaman tentang bahwa nikmat berasal dari Allah SWT dan penggunaan manfaat nikmat tersebut dengan mengikuti ketentuan dan kesenangan Allah. Tujuan pendidikan Islam ini mencakup aspek psikomotorik (penggunaan manfaat sesuai dengan kesenangan) dan aspek spiritual (ketaatan kepada kehendak Allah). Dari keempat tujuan pendidikan Islam yang digagas oleh Syekh Nawawi, dapat disimpulkan bahwa fungsi manusia sebagai hamba Tuhan mengharuskan kita mencari kebahagiaan dalam ketundukan kepada-Nya, memperoleh ilmu untuk bekal akhirat, dan melaksanakan tugas sebagai pemimpin (khalifah). Semua kegiatan kita sebagai manusia harus dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa syukur kepada Tuhan.

 

Strategi Pembelajaran Islam Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

 

Pemikiran Syekh Nawawi Al-Bantani tentang strategi pembelajaran Islam berfokus pada pendekatan teosentris yang mengutamakan tauhid dan bertujuan agar manusia menjadi hamba Allah yang taat dan khalifah di bumi. Strategi pembelajarannya menekankan akhlak mulia melalui pembiasaan, latihan istiqamah, dan penanaman adab. Beliau memandang proses pendidikan sebagai transfer dan transformasi ilmu yang berpusat pada Tuhan, menghasilkan adab sebagai buah dari pembelajaran yang menyeluruh. 

Menurut Strategi pembelajaran menurut Syekh Nawawi al-Bantani adalah menekankan pendidikan tauhid yang kuat sebagai fondasi utama, mengembangkan adab melalui pembiasaan dan keteladanan guru, menanamkan iman dan akhlak mulia, serta mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat dan meraih ridha Allah. Beliau juga menyoroti pentingnya penguasaan bahasa Arab sebagai kunci memahami ilmu agama dan pentingnya kesungguhan serta integritas dalam proses pembelajaran

Strategi Pembelajaran Islam

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, Syekh Nawawi menetapkan strategi dan prinsip-prinsip berikut:

1.Niat yang Ikhlas: 

Pendidik harus memiliki niat tulus karena Allah semata, bukan untuk kepentingan duniawi atau popularitas. 

  1. Etika Pendidik dan Murid:
  2. Pembelajaran Menyeluruh: 
  • Pendidik: Harus memiliki etika yang baik, kesederhanaan, keteguhan moral, serta integritas dalam menjaga diri dan martabat ilmu. 
  • Murid: Diharuskan memiliki semangat tinggi dalam belajar, waktu yang disiplin, dan sikap hormat kepada guru, serta tidak mencari-cari kesalahan guru. 

Meliputi pengenalan terhadap tauhid dan sifat-sifat Allah, serta ilmu-ilmu alat yang menunjang pelaksanaan syariat Islam, seperti ilmu hisab untuk zakat atau ilmu waktu untuk ibadah. 

  1. Pembiasaan dan Pelatihan: 

Mendidik siswa dengan membiasakan mereka pada hal-hal baik, seperti shalat, dan melatih mereka agar istiqamah (konsisten) dalam kebaikan. 

 

  1. Kesungguhan dan Ketekunan: 

Murid didorong untuk bersungguh-sungguh, rakus, dan tidak kenal lelah dalam menuntut ilmu serta selalu berada di tempat belajar. 

  1. Kesesuaian Materi: 

Pendidik harus menjelaskan ilmu sesuai dengan kapasitas dan pemahaman peserta didik, sehingga materi yang disampaikan dapat diserap dan bermanfaat. 

 

Kesimpulan

Pemikiran Sheikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Salalim al-Fudhala’ menegaskan bahwa tujuan utama pembelajaran Islam adalah membentuk manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan ketaqwaan kepada Allah SWT serta kesiapan santri untuk mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan Islam menurut beliau berorientasi pada keseimbangan antara dimensi intelektual, spiritual, dan moral.

Adapun strategi pembelajaran Islam yang ditawarkan Sheikh Nawawi menekankan beberapa aspek penting, yaitu: keikhlasan niat dalam menuntut ilmu, penghormatan terhadap guru sebagai teladan, penerapan metode bertahap (tadarruj) dalam memahami ilmu, serta integrasi antara penguasaan teori dan praktik ibadah. Beliau juga menekankan pentingnya pembiasaan akhlak, pengendalian diri, serta disiplin belajar sebagai faktor penentu keberhasilan pendidikan.

Dari pemikiran tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan Sheikh Nawawi al-Bantani memiliki relevansi tinggi bagi sistem pendidikan Islam kontemporer, termasuk di pesantren. Penekanan beliau pada niat, akhlak, dan metode pembelajaran yang bertahap menunjukkan bahwa pendidikan Islam idealnya tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter mulia dan siap berkontribusi dalam kehidupan sosial dan keagamaan.

 

 

aaa