Kata manusia merupakan istilah dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab istilah manusia dapat disepadankan dengan kata nas, insan, dan basyar, dalam bahasa Inggris disepadankan dengan kata man, dan human. Dalam konteks bahasa Indonesia “manusia” adalah makhluk yang berakal budi atau mampu menguasai makhluk lain (Kbbi, 2016).
Pembahasan mengenai manusia tak akan kunjung usai. Para pemikir membahas konsep manusia dari berbagai aspek. Pembahasan mereka kebanyakan bersentuhan dengan salah satu dimensi manusia. Para filsuf mempunyai pemikiran
bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir atau dalam bahasa filsuf muslim, manusia disebut sebagai al-hayawan al-nathiq (Suryadi, 2019). Menurut Dr. Alexis Carrel bahwa manusia adalah makhluk yang misterius. Menurutnya, betapa sulitnya memahami manusia secara tuntas dan menyeluruh, sehingga setiap kali seseorang selesai memahami satu aspek dari manusia, maka akan muncul lagi aspek lainnya yang belum dibahas (Nata & Fauzan, 2005). Dalam perspektif pendidikan, Langeveld memandang bahwa manusia homo educandum dan homo educable, yaitu makhluk yang harus dididik dan dapat dididik (Ihsan & Ihsan, 2007).
Berdasarkan makna kata manusia di dalam Alquran dapat dipahami secara menyeluruh bagaimana manusia sebenarnya, yang pertama al-insan jika dilihat dari asal katanya memiliki kata dan arti yang beragam, sebut saja salah satunya kata anasa yang memiliki arti melihat, mengetahui, dan minta izin. Arti kata ini menunjukkan adanya kaitan substansial antara manusia dengan penalarannya sehingga ia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, ia juga dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, dan terdorong minta izin dalam menggunakan sesuatu yang bukan miliknya (Nata & Fauzan, 2005). Selain itu, kata al-Insan juga digunakan Alquran untuk menjelaskan sifat umum, serta sisi kelebihan dan kelemahan manusia. Jadi dapatlah dipahami bahwa melalui penggunaan kata ini dalam beberapa ayat, Allah Swt. telah menggambarkan sesungguhnya manusia merupakan makhluk Allah Swt. yang memiliki sifat-sifat yang bernilai positif dan negatif. Agar manusia senantiasa selamat dan mampu memfungsikan tugas dan kedudukannya dengan baik, maka ia harus mengarahkan seluruh aktivitasnya sesuai dengan nilai ajaran Islam. Untuk itu, pendidikan merupakan satu wahana yang sangat penting guna mengembangkan potensi yang dimiliki agar bisa difungsikan sebagaimana mestinya (Ruslan, 2018). Yang kedua kata al-Basyar ditujukan oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Demikian pula halnya dengan para Rasul-Rasul-Nya. Hanya saja kepada mereka diberikan wahyu, sedangkan kepada manusia umumnya tidak diberikan wahyu (Ramayulis & Nizar, 2009), kata al-Basyar selalu mengacu pada manusia dari aspek lahiriyah, mempunyai bentuk tubuh yang sama, makan dan minum, mengalami penuaan hingga kematian (Nata & Fauzan, 2005), Kemudian, kata al-Nas umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial (QS. al-Hujurat ayat 13), sebagai makhluk sosial, manusia secara fitrah senang hidup berkelompok, mulai dari lingkup terkecil yakni keluarga hingga pada lingkup terbesar dan kompleks yakni bangsa dan umat manusia. Dalam lingkup keluarga, fitrah manusia sebagai makhluk sosial harus dikembangkan melalui upaya-upaya pembentukan sikap seperti saling membantu di antara para anggota keluarga.
Allah Swt. menciptakan manusia dengan berbekal berbagai potensi yang dianugerahkan kepadanya, dimana akal menjadi potensi yang utama dalam kehidupannya. Sebab dengan akal dan pikirannya manusia dapat melakukan hal yang sulit yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk ciptaan yang lain. Dengan akal pula, manusia bisa memahami dan menginterpretasi ayat-ayat Tuhan baik yang sifatnya qauliah maupun yang sifatnya kauniah, sehingga manusia bisa memahami dan mengenal akan keberadaan Sang Pencipta. Selain itu, akal juga diyakini menjadi pembeda antara manusia dengan binatang. Walaupun begitu, pada suatu saat manusia dengan potensi akalnya bisa seperti binatang, bahkan lebih buas dari binatang. Hal itu terjadi, jika manusia tidak bisa menggunakan akal pikiran sebagaimana mestinya.
Pendidikan Islam pada awal perkembangannya telah memiliki keunggulan karena coraknya yang tersendiri yaitu bersifat komprehensif dengan maksud agar anak didik didorong sehingga mampu untuk menuangkan segala kemampuan yang dimilikinya. Tujuan dalam pendidikan Islam terdiri dari tujuan keagamaan dan tujuan keduniaan. Kebijakan baru untuk tujuan keduniaan telah dinampakkan dari upaya menonjolkan keterampilan bekerja dalam rangka pendidikan seumur hidup. Kedua tujuan tersebut hanya dapat dicapai bila sistem pendidikan yang berjalan efektif dan sebanding. Manusia sebagai khalifah di muka bumi yang banyak dicantumkan di dalam Alquran bertujuan agar manusia mampu membangun dan memakmurkan bumi serta melestarikannya (Sarnoto, 2017). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan proses panjang melalui pendidikan yang dimulai sejak dibuaian sampai ke liang lahat. Dalam Islam sosok manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh. Pembangunan manusia dalam Islam tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini.
Pendidikan Islam dibangun atas prinsip-prinsip pokok yang membentuk karakteristiknya, yaitu:
a. Penciptaan yang bertujuan, dengan maksud bahwa pendidikan merupakan bentuk ibadah dengan interaksi pada alam, manusia sebagai fokus dan keimanan sebagai tujuan.
b. Kesatuan yang menyeluruh, yaitu kesatuan perkembangan individu, masyarakat dan dunia serta kesatuan umat manusia sebagai karakteristik universalitas. Ditambah kesatuan pengetahuan yang mencakup berbagai disiplin ilmu dan seni.
c. Keseimbangan yang kokoh, yaitu keseimbangan antara teori dan penerapan, bagi individu dan masyarakat, serta antara fardhu ‘ain dan fardhu kifayah baik keagamaan maupun keduniaan (Aly & Munzier, 2003).
Pendapat ini diperkuat oleh Zakiyah Darajat yang menyatakan bahwa
pendidikan Islam banyak ditujukan pada perbaikan mental yang akan diwujudkan dalam amal perbuatan, baik sendiri maupun orang lain. Di sisi lain pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoretis saja, tetapi juga praktis. Dengan kata lain pendidikan Islam memadukan antara pendidikan iman dan pendidikan amal serta pendidikan individu dan masyarakat (Hasan, 1994).