Pendidikan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar, Praktek pengelolaan pendidikan pada masa ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Prinsip-Prinsip Pendidikan
a. Pendidikan di arahkan pada mengajarkan isi Al-Qur’an
b. Pendidikan diajarkan dengan menggunakan dialek daerah masing-masing, sehingga sering timbul perselisihan dalam bacaan Al-Qur’an.
2. Sumber Pendidikan
Sumber pendidikan diambil dari Al-Qur’an, Hadits, Alam sekitar (millu) dan ijtihad dalam bentuk ijma’ dan Qiyas.
3. Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan pada masa khulafaurrasyidin tidak berbeda dengan masa Nabi saw yaitu:
1) Kuttab sebagai lembaga pendidikan rendah yang di dalamnya mengajarkan kepada anak-aanak dalam hal baca dan tulis dan sedikit pengetahuan-pengetahuan agama.
2) Masjid sebagai pusat pendidikan umat islam yang telah mukallaf pada masa permulaan islam belum terdapat sekolah formil, seperti yang ada pada masa sekarang.
a. Visi, Misi Dan Tujuan Pendidikan
Visi pendidikan pada masa khalifaur Rasyidin secara ekplisit sulit di jumpai. Namun dari berbagai fakta dan data yang di temui, visi pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin masih belum berbeda dengan visi pendidikan pada zaman Rasulullah saw.
Visi pada zaman khalifah Abu Bakar Sidiq dapat di kemukakan sebagai berikut:
1. Memantapkan dan menguatkan keyakinan dan dan kepatuhan kepada ajaran Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw dengan cara memahami, menghayati, dan mengamalkan secara konsisten. Usaha ini di perkuat dengan sikap tegas yang di tujukan oleh Abu Bakar yang memerangi orang-orang yang ingkar atau murtad terhadap ajaran islam seperti tidak mau membayar zakat, dan mengaku sebagai Nabi.
2. Menyediakan sarana, prasarana dan fasilitas yang memungkinkan terlaksananya ajaran agama. Usaha ini di lakukan oleh khulafaurrasyidin dengan mengumpulkan Al-Qur’an yang berserakan.
3. Menumbuhkan semangat cinta tanah air dan bela negara yang memungkinkan Islam dapat berkembang di seluruh dunia. Upaya ini dilakukan antara lain dengan memperluas wilayah dakwah islam selain ke jazirah Arabia juga ke Irak, dan ke Syiria.
4. Melahirkan para kader pemimpin umat, pendidik dan da’i yang tangguh dalam mewujudkan syi’ar islam, upaya yang di lakukan antara lain seperti halaqoh kajian terhadap Al-Qur’an, Al-Hdits, hukum Islam,dan fatwa. Upaya ini pada tahap selanjutnya melahirkan para ulama dari kalangan tabi’in.
Lahirnya visi, misi, dan tujuan pendidikan di zaman khulafaurrasyidin seperti itu tidak terlepas dari situasi sosial dan politik yang terjadi di wilayah kekuasaan islam pada saat itu, khususnya di Mekah dan Madinah. Sebagaimana diketahui bahwa pada zaman khulafaurrasyidin pusat pemerintahan berada di Madinah, yang penduduknya terdiri dari latar belakang agama, sosial, budaya, ekonomi, politik, pendidikan, dan lainnya yang berbeda.
Keadaan masyarakat Madinah yang demikian itulah yang mempengaruhi lahirnya visi, misi, dan tujuan pendidikan sebagaimana tersebut di atas. Namun demikian, latar belakang tersebut hanya berperan sebagai pemicu lahirnya visi, misi, dan tujuan tersebut. Adapun ketika visi, misi dan tujuan tersebut lahir di maksudkan untuk seluruh umat manusia.
b. Metode Pembelajaran
Adapun metode yang di gunakan dalam mengajar selain dengan bentuk halaqah. Yakni guru duduk di sebelah ruangan masjid kemudian di kelilingi oleh para siswa. Menyampaikan ajaran kata demi kata dengan artinya kemudian menjelaskan kandungannya, sementara para siswa menyimak, mencatat, dan mengulanginya apa yang di kemukakan oleh guru.
Az-Zarnuji menuliskan, didalam kitabnya ta’lim-muata’alim menasehatkan agar pelajar tidak memilih sendiri mata pelajaran yang akan dipelajarinya, yang terlebih baik ialah menyerahkan hal itu kepada guru yang telah banyak pengalaman untuk memilihnya yang sesuai dengan si murid.
c. Pendidik
Yang menjadi pendidik di zaman khulafaurrasyidin antara lain adalah Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Ibn Abbas, Siti Aisyah, Anas bin Malik,Zaid bin Tsabit, Abu Dzar Al-Ghifari. Dari mereka itulah kemudian lahir parasiswa yang kemudian menjadi ulama dan pendidik. Berkaitan dengan masalahpendidikan ini, khalifah Umar bin Khatab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah. Selanjutnya beliau jugamengangkat sahabat-sahabat untuk bertugas menjadi guru daerah. Misalnya Abdurrahman bin Ma‟qal dan Imran bil al-Hasim di tugaskan mengajar diBashrah. Kemudian Abdurrahman bin Ghanam di tugaskan ke syiria, danHasan bin Abi Jabalah di tugaskan ke Mesir.
Dengan demikian yang menjadi pendidik adalah para Khulafaur Rasyidin sendiri dan para sahabat besar yang lebih dekat kepada Raulullah SAW danmemiliki pengaruh yang besar.
d. Peserta Didik
Peserta didik di zaman Khalifaurrasyidin terdiri dari masyarakat yang tinggal di Makkah dan Madinah. Namun yang khusus mendalami bidang kajian keagamaan hingga menjadi seorang yang mahir, alim, dan mendalami penguasaannya di bidang ilmu agama jumlahnya masih terbatas. Sasaran pendidikan (peserta didik) dalam arti umum yakni membentuk sikap mental keagamaan adalah seluruh umat islam yang ada di Mekah dan Madinah. Adapun sasaran pendidikan dalam arti khusus yakni membentuk ahli ilmu agama adalah sebagian kecil dari kalangan tabi‟in yang selanjutnya menjadi
ulama.
e. Materi Pendidikan
Kurikulum pendidikan di Madinah selain berisi materi pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan, isi Al-Qur‟an, Al-Hadits, hukum islam, kemasyarakatan, ketatanegaraan, pertahanan, keamanan, dan kesejahteraan.
f. Metode pembelajaran
Adapun metode yang di gunakan dalam mengajar selain dengan bentuk halaqah. Yakni guru duduk di sebelah ruangan masjid kemudian dikelilingi oleh para siswa. Menyampaikan ajaran kata demi kata dengan artinya kemudian menjelaskan kandungannya, sementara para siswa menyimak, mencatat, dan mengulanginya apa yang di kemukakan oleh guru.
Metode mengajar ini diterangkan didalam ahli fikir islam seperti : al-Ghozali, az-Zarnuji, al-Abdari dan Ibnu Kaldun, yaitu orang-orang yang punya pengaruh dalam pendidikan islam, maka kita akan mengutip pendapat-pendapat mereka dalam menjelaskan metode mengajar. Al-Abdari menjelaskan bahwa mengajarkan Al-Qur‟an disampaikan dengan memakai metode dikte, yaitu anak-anak mengulang kembali apa yang telah diucapkan oleh guru beberapa faqroh sehingga murid-murid dapat menghafalnya dengan baik diluar kepala. Sedangkan Al-Ghozali, lebih mementingkan cara belajar anak, karena disana terdapat perbedaan diantaranya daya tangkap anak dengan orang-orang dewasa. Mereka mengatakan bahwa kewajiban guru adalah supaya mengajaranak-anak sesuatu yang dapat dipahami dengan mudah, karena dengan subjek yang sukar dan mengakibatkan kekacauan pikirannya sehingga mengakibtkan benci kepada pengetahuan.
g. Lembaga Pendidikan
Pada masa khulafaurrasyidin pusat-pusat pendidikan bukan hanya terdapatdi Mekah dan Madinah, melainkan juga sudah tersebar di berbagai daerahkekuasaan islam lainnya.
Adapun lembaga-lembaga pendidikan yangdigunakan masih sama dengan zaman Rasulullah SAW, yaitu Masjid, suffah, kuttab dan rumah.Lembaga pendidikan islam adalah merupakan hasil pikiran yang dicetuskan oleh kebutuhan-kebutuhan sesuatu masyarakat islam dan perkembangannya yang digerakan ole h jiwa islam dan berpedoman kepadaajaran-ajarannya dan tujuan-tujuannya. Secara keseluruhannya, Lembaga pendidikan islam itu bukanlah sesuatu yang datang dari luar atau terambilkebudayaan-kebudayaan yang lama, akan tetapi ia dalam perkembangan dan pertumbuhannya mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan islam secara umum, dan didalamnya kelihatan tujuan-tujuan dan sikap kehidupan tersebut.
Lembaga pendidikan islam yang bermacam-macam itu telah tumbuh dalam waktu yang jauh, dibawah pengaruh situasi-situasi tertentu pula yang diinginkan oleh kebutuhan-kebutuhan kehidupan islam yang sedang bertumbuh dan berkembang. Diantara lembaga-lembaga pendidikan islam yang penting adalah :
Al-Kuttab, masjid darul hikmah, darul ilm, madrasah,bimaristan, khawanik, jiwaya, al-rabth, halaqatud-dars, dan duwarulkuttab.
Dilembaga-lembaga pendidikan islam tersebut, para sahabat memberikan pelajaran agama islam kepada muridnya, baik yang berasal dari penduduksetempat maupun yang datang dari lembaga lain. Di lembaga-lembaga pendidikan islam terdapat madrasah-madrasah terkenal pada masa itu diantaranya :
➢ Madrasah
Madrasah di Makkah. Guru pertama yang mengajar di Makkah ialah Mu‟adz bin Jabal. Ialah yang mengajarkan Al-Qur‟an , hukum-hukum halaldan haram dalam islam. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (65-86H), Abdullah bin Abbas pergi ke Makkah pergi kesana lalu mengajar disana.Ia mengajarkan tafsir, Hadist, Fiqih dan sastra. Abdullah bin Abbsalah yang merupakan pembangun madrasah Makkah yang kemudian menjadi termashur keseluruh penjuru negri islam.
Madrasah Madinah. Madrasah Madinah ini lebih termashur, karena disanalah tempat Abu Bakar, Umar dan Ustman dan disanalah banyak tinggalsahabat-sahabat Nabi SAW. Diantara sahabat yang mengajar dimadrasah Madinah ini adalah Umar bin Khatab, Ali bin Abi Tholib, Zaid bin Tsabit danAbdullah bin Umar. Zaid bin Tsabit adalah ahli Qira‟at dan Fiqh, dan beliaulah yang mendapat tugas memimpin penulisan kembali Al-Qur‟an, baikdi zaman Abu Bakar atau zaman Ustman bin Affan. Sedangkan Abdullah bin Umar seorang ahli Hadist. Beliau dianggap pelopor mazdhab Arl al- hadistyang berkembang pada masa-masa berikutnya.
Madrasah Basrah. Ulama sahabat yang terkenal di Bassrah ini adalah Abu Musa al-Asy‟ari dan Annas bin Malik. Abu musa terkenal sebagai ahli fiqh dan ilmu al-qur‟an, sedangkan Annas bin Malik terkenal sebagai ahli Hadist. Madrasah Kuffah.Ulama sahabat yang tinggal di Kuffah ialah Ali bin Abi Tholib dan Abdullah bin Mas‟ud. Ali bin Abi Tholib mengurus masalah politik dan urusan pemerintahan, sedangkan Abdullah bin Mas‟ud sebagai guru agama. Ibnu Mas‟ud adalah utusan resmi khalifah Umar untuk menjadi guru agama di Kuffah.
Madrasah Damsik. Setelah negeri Syam atau Siria menjadi bagian Negara islam dan penduduknya banyak memeluk agama islam, maka khalifah Umarbin Khattab mengirim 3 orang guru agama ke negeri, yaiut : Abu Dardak di Damsyik, Mu‟az bin Jabal di Palestina dan Ubadah di Hims.
Madrasah Fistat (Mesir). Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah Abdullah bin Amir bin al-As. Ia adalahseorang ahli hadist . ia tidak hanya menghafal hadist-hadist yang didengarnya dari Nabi SAW. Melaikan menulisnya dalam catatan, hingga ia tidak lupa atau khilaf dalam meriwayatkan hadist-hadist itu kepada murid-muridnya.
➢ Al-Kuttab
Al-kuttab merupakan lembaga pendidikan yang terlama nampaknya al-kuttab ini didirikan oleh orang arab. Pada masa Abu Bakar dan Umar, yaitusesudah mereka menaklukan penaklukan-penaklukan dan sesuda mereka mempunyai hubungan dengan bangsa-bangsa yang sudah maju.Al-Kuttab memegang peranan penting dalam kehidupan penting karena mengajarkan Al-Qur‟an kepada anak -anak dianggap satu hal yang sangatperlu, sehingga kebanyakan para ulama berpendapat mengajarkan Al-Qur‟an bagi anak-anak disamping itu sendiri menyatakan bahwa belajar itu sangatperlu sehingga beliau mewajibkan tiap-tiap tawanan perang badar untuk mengajarakan 12 orang anak orang-orang islam sebagai ganti tembusan tawanan perang.
Prof. Khuda Bakhsk mengatakan bahwa pendidikan di Al-Kuttab berkembang secara biasa tanpa campur tangan pemerintah. Pendidikan dasar bukanlah satu macam pendidikan yang terdapat pada masa modern saja, akan tetapi perhatian terhadap pendidikan itu telah timbul dari pihak perorangan secara sepontan pada masa-masa islam yang telah lalu, oleh karena itu Al-Kuttub telah terdapat pada setiap desa baik didirikan disamping masjid atau bukan. System belajar di Kuttab, tidak membatasi kebebasan orang tua untuk mendatangkan para guru-guru kerumah-rumahnya untuk mengajarkan anak-anak mereka secara privat dirumah, pendeknya Al-Kuttub adalah sesuatu yang berharga dalam kehidupan islam, karena Al-Kuttub dalam hubungan dengan agama merupakan sarana yang penting untuk kehidupan di dunia dan diakhirat pendidikan dasar telah tersebar luas, terutama pada masa kejayaan islam, sekalipun orang islam belum megerti prinsip-prinsip wajib belajar, dengan pengertian Negara harus mengendalikan urusan pendidikan dan harusmewajibkan belajar atas setiap orang pada usia tertentu.
➢ Masjid
Masjid dapat dianggap sebagai majelis ilmu pengetahuan dalam islam, masjid dan jami berfungsi sebagai sekolah menengah dan perguruan tinggi dalam waktu yang sama. Masjid pertama kalinya sebagai pendidikan dasar, akan tetapi orang-orang islam berpendapat lebih baik memisahkan Pendidikan anak-anak pada tempat tertentu kemudiannya, demi menjaga kehormatan masjid dari keributan anak-anak dan karena mereka belum mampu menjaga kebersihan.
Masjid merupakan tempat yang utama untuk mempelajari ilmu agama dan ilmu lainnya, dan pendidikan diberikan cuma-cuma disekolah-sekolah, diantaranya masjid-masjid yang terkenal sebagai tempat belajar : jami umar
bin ash, jami ahmad bin thulan, masjid al-azhar.